PART 2
Pelangi selalu tiba
setelah hujan. Air yang jatuh berganti sinar nan indah berwarna, hingga mata
kini terpanah olehnya. Sayang keindahan yang menghiasi langit tak tertahan lama
akan ada ketika langit kehilangan warna dan kembali sepi. Seperti
itu lah Dina, jika ia menjelaskan arti hidup baginya mungkin akan banyak
majas dan kata kata khiasan yang akan ia gunakan.
“Aku dimana? Apa yang
terjadi ”. Ucap Dina lemah.
“kamu di UKS Din,
penyakit kamu kambuh dan akhirnya kamu pingsan”. Rara memberikan secarik
minuman.
Tidak banyak pertanyaan
yang Dina lontarkan sebab ia masih mengalami sakit. Sakit lahir dan batin. Ia
mencoba mengingat kejadian yang telah terjadi sebelum ia berada di Uks bersama
Rara. Terakhir terlintas di benatnya ia berada di pelukan seorang pria.
“jingga?mana dia Ra?”
“dia masuk kelas karna
ada ulangan, padahal dia yang nungguin kamu dari tadi tapi kamu gak sadar
sadar”. Ucapnya melemah.
“ aku harus temui dia
skrng sudah jam pulang!”. Dina bergegas pergi.
“ta ta tapii dinn”.
Cegahnya.
Dina bergegas ke
kelasnya tak ia temui lelaki yang telah menopangnya bangkit. Membawanya keruang
kesehatan dan memberi perhatian lebih padanya. Ia pergi kekantin lagi lagi tak
ia temui kehadirannya. Akhirnya ia temui lelaki itu di hall membawakan tas dan
helmnya.
“kemana aja jingga? Aku
cariin kamu loh?”.
“aku disini di
hadapanmu, ini tas dan helmmu”. Jingga dengan tatapan tajamnya
“udah gitu aja?”.
“pulang gih entar kamu
sakit lagi”.
Begitulah jingga
orangnya cuek,nyebelin,aneh tapi dia perhatian walaupun kadang kadang. sontak
saja Dina tak pernah mengira bahwa Jingga mencintainya. Lelaki itu pulang
seolah olah tak terjadi apapun terhadapnya dan Dina tapi entah apa di pikiran
hati Jingga. Dia hadir ketika Dina butuh tanpa meminta balasan apapun. Dina
pulang mengunakan sepeda motornya. Rara yang sibuk dengan pacarnya membuat Dina
cukup jengkel tapi apa boleh buat seperti itu lah sepasang kekasih.
Matahari senja kini
tiba, dalam hitungan menit langit akan berubah menjadi hitam dan gelap.
*kriiiinnnnnng kring*
suara telepon Dina berbunyi. Ternyata panggilan dari jingga.
“hallo ada apa jingga?”
“hallo, entar malam aku
kerumah kamu ya Din”
“mau ngapain gga”
“tunggu aja entar tau
ndiri” ucap Jingga angkuh.
Dina selalu dibuat
kesal entah karna apa jingga melakukan itu. Dina mulai merasakan ada cinta yang
datang padanya tapi bukan cinta yang ia kejar dan juga bukan cinta yang ia
inginkan. Cinta itu menghampirinya seakan akan menghalangi rute perjalanannya
seperti setapak jalan yang sangat menarik untuk di lalui ditengah jalan yang
lurus. Terlintas dipikirannya bahwa jalan yang menarik itu adalah apa yang
harus ia hampiri.
“assalamualaikum,
Dina??” teriak jingga di teras rumah Dina.
“waalaikumsalam
bentaarrrr” membuka pintu.
“ yukk masuk jingga”.
Ajaknya
“ga usah repot repot
kita di taman aja”
Apa yang akan di
lakukan lelaki yang sangat Dina kenal itu. Wajahnya susah di tebak, lelaki
berkulit kuning langsat, berkumis tipis dan berambut klimis sangat tampan malam
ini. mereka berjalan beriringan dan akhirnya lelaki itu duduk di ayunan. Dina
tetap berdiri berbincang kecil pada Jingga diselipi canda kecil khas mereka.
Setelah tawa kedua insan itu terhenti sunyi pun menyapa. Mereka memutuskan
duduk di salah satu kayu yang ada di sekitar taman.
“kamu tampan malam ini
gga”. Ucap Dina tersipu
“kamu selalu cantik
setiap saat Dina”
Tak ada kata yang
mereka ucapkan setelah itu, sunyi lagi lagi menyapa mungkin mereka memikirkan
kejadian siang tadi. Tak ada yang ingin memulai percakapan itu. Jingga
memberanikan diri menanyakan perasaan Dina terhadap Rio mantan Dina walaupun
Jingga tau bahwa jawabannya adalah sangat cinta, masih cinta, atau makin cinta.
“aku akan mencoba
membuka hati”. Ucap dina lantang membuat suasana berubah.
“izinkan aku berada
dihatimu”. Sahut jingga lantang
“kamu sahabatku”
“aku mencintaimu Dina”
Sahut sahutan antara
mereka makin jelas sangat jelas. Tanpa ada satu kata pun terbata terhenti
ketika jingga mengkaitkan cinta. Percakapan terhanti lama. Perasaan Dina kacau
entah harus bertahan terhadap cinta yang tak pasti atau berlabuh pada cinta
yang sekarang tepat disampingnya. Dina tak terlalu bodoh untuk di bodoh bodohi
perasaannya sendiri. hati dan logikanya kini seperti berperang.
“aku juga mencintaimu
jingga”. Sahut Dina dengan senyum manisnya.
Jingga beranjak bangkit
dari duduk memeluk Dina dengan bahagianya. Sangat erat itulah cinta tak dapat
ditebak, diminta dan dicari. Cinta datang ketika Dina membutuhkannya. Jingga
mencium kening dina dengan penuh cinta.
“Dinn? Congratulation” ucap
seseorang tepat di belakang Dina dan Jingga
Suasan sepi. Who is
That ?
Bersambung...................................
***