Kamis, 08 Januari 2015

SALAM GELAP DALAM SENJA


PART 2
Pelangi selalu tiba setelah hujan. Air yang jatuh berganti sinar nan indah berwarna, hingga mata kini terpanah olehnya. Sayang keindahan yang menghiasi langit tak tertahan lama akan ada ketika langit kehilangan warna dan kembali sepi.  Seperti  itu lah Dina, jika ia menjelaskan arti hidup baginya mungkin akan banyak majas dan kata kata khiasan yang akan ia gunakan.
“Aku dimana? Apa yang terjadi ”. Ucap Dina lemah.
“kamu di UKS Din, penyakit kamu kambuh dan akhirnya kamu pingsan”. Rara memberikan secarik minuman.
Tidak banyak pertanyaan yang Dina lontarkan sebab ia masih mengalami sakit. Sakit lahir dan batin. Ia mencoba mengingat kejadian yang telah terjadi sebelum ia berada di Uks bersama Rara. Terakhir terlintas di benatnya ia berada di pelukan seorang pria.
“jingga?mana dia Ra?”
“dia masuk kelas karna ada ulangan, padahal dia yang nungguin kamu dari tadi tapi kamu gak sadar sadar”. Ucapnya melemah.
“ aku harus temui dia skrng sudah jam pulang!”. Dina bergegas pergi.
“ta ta tapii dinn”. Cegahnya.
Dina bergegas ke kelasnya tak ia temui lelaki yang telah menopangnya bangkit. Membawanya keruang kesehatan dan memberi perhatian lebih padanya. Ia pergi kekantin lagi lagi tak ia temui kehadirannya. Akhirnya ia temui lelaki itu di hall membawakan tas dan helmnya.
“kemana aja jingga? Aku cariin kamu loh?”.
“aku disini di hadapanmu, ini tas dan helmmu”. Jingga dengan tatapan tajamnya
“udah gitu aja?”.
“pulang gih entar kamu sakit lagi”.
Begitulah jingga orangnya cuek,nyebelin,aneh tapi dia perhatian walaupun kadang kadang. sontak saja Dina tak pernah mengira bahwa Jingga mencintainya. Lelaki itu pulang seolah olah tak terjadi apapun terhadapnya dan Dina tapi entah apa di pikiran hati Jingga. Dia hadir ketika Dina butuh tanpa meminta balasan apapun. Dina pulang mengunakan sepeda motornya. Rara yang sibuk dengan pacarnya membuat Dina cukup jengkel tapi apa boleh buat seperti itu lah sepasang kekasih.
Matahari senja kini tiba, dalam hitungan menit langit akan berubah menjadi hitam dan gelap.
*kriiiinnnnnng kring* suara telepon Dina berbunyi. Ternyata panggilan dari jingga.
“hallo ada apa jingga?”
“hallo, entar malam aku kerumah kamu ya Din”
“mau ngapain gga”
“tunggu aja entar tau ndiri” ucap Jingga angkuh.
Dina selalu dibuat kesal entah karna apa jingga melakukan itu. Dina mulai merasakan ada cinta yang datang padanya tapi bukan cinta yang ia kejar dan juga bukan cinta yang ia inginkan. Cinta itu menghampirinya seakan akan menghalangi rute perjalanannya seperti setapak jalan yang sangat menarik untuk di lalui ditengah jalan yang lurus. Terlintas dipikirannya bahwa jalan yang menarik itu adalah apa yang harus ia hampiri.
“assalamualaikum, Dina??” teriak jingga di teras rumah Dina.
“waalaikumsalam bentaarrrr” membuka pintu.
“ yukk masuk jingga”. Ajaknya
“ga usah repot repot kita di taman aja”
Apa yang akan di lakukan lelaki yang sangat Dina kenal itu. Wajahnya susah di tebak, lelaki berkulit kuning langsat, berkumis tipis dan berambut klimis sangat tampan malam ini. mereka berjalan beriringan dan akhirnya lelaki itu duduk di ayunan. Dina tetap berdiri berbincang kecil pada Jingga diselipi canda kecil khas mereka. Setelah tawa kedua insan itu terhenti sunyi pun menyapa. Mereka memutuskan duduk di salah satu kayu yang ada di sekitar taman.
“kamu tampan malam ini gga”. Ucap Dina tersipu
“kamu selalu cantik setiap saat Dina”
Tak ada kata yang mereka ucapkan setelah itu, sunyi lagi lagi menyapa mungkin mereka memikirkan kejadian siang tadi. Tak ada yang ingin memulai percakapan itu. Jingga memberanikan diri menanyakan perasaan Dina terhadap Rio mantan Dina walaupun Jingga tau bahwa jawabannya adalah sangat cinta, masih cinta, atau makin cinta.
“aku akan mencoba membuka hati”. Ucap dina lantang membuat suasana berubah.
“izinkan aku berada dihatimu”. Sahut jingga lantang
“kamu sahabatku”
“aku mencintaimu Dina”
Sahut sahutan antara mereka makin jelas sangat jelas. Tanpa ada satu kata pun terbata terhenti ketika jingga mengkaitkan cinta. Percakapan terhanti lama. Perasaan Dina kacau entah harus bertahan terhadap cinta yang tak pasti atau berlabuh pada cinta yang sekarang tepat disampingnya. Dina tak terlalu bodoh untuk di bodoh bodohi perasaannya sendiri. hati dan logikanya kini seperti berperang.
“aku juga mencintaimu jingga”. Sahut Dina dengan senyum manisnya.
Jingga beranjak bangkit dari duduk memeluk Dina dengan bahagianya. Sangat erat itulah cinta tak dapat ditebak, diminta dan dicari. Cinta datang ketika Dina membutuhkannya. Jingga mencium kening dina dengan penuh cinta.
“Dinn? Congratulation” ucap seseorang tepat di belakang Dina dan Jingga
Suasan sepi. Who is That ?
Bersambung...................................

***