Salam
Gelap Dalam Senja
Selamat gelap, apa kabarmu cinta? Ada mahkluk Tuhan
yang merindukanmu, menantimu, dan menginginkanmu. Dimana kamu cinta? Ia
tertatih menantimu. Hampiri ia cinta, ia kesepian tanpamu. Mahkluk itu adalah
wanita yang tidak tahu dimana ia harus menempatkan hatinya, ketika perjalanan
luka lama yang menghantuinya, wanita yang sangat takut ditinggalkan dan
meninggalkan, wanita lemah yang hidup dengan racikan racikan dokter. Dia
terbiasa dengan sakit. Memendam perih pun kebiasaanya. Wanita itu ketakutan,
hal yang terjadi membuat ia enggan JATUH CINTA. Wanita itu adalah Dina.
“pagi ini cerah ya din”
“iyaa nih ra”
Percakapan kedua insan yang memecahkan kesunyian
kelas. Mereka sepasang sahabat yang saling mengisi, memberi dan menerima. Dina
memilih Rara menjadi sahabatnya sejak pertama kali ia mengenal Rara entah karna
apa, Dina merasa separuh tubuhnya berada pada tubuh Rara. Kenapa tidak dari
wajahnya saja meraka mirip ditambah tingkah laku dan kebiasaan yang hampir sama
membuat mereka sangat lengket.
“kamu mau tau gak din kemaren si doi sosweet
binggo”. Ucap Rara bahagianya.
“kok bisa ra”
“begini loh.....................”. panjang lebar
Rara menjelaskan.
Kalau sudah suasananya begini Dina menjadi sosok
pendengar yang baik untuk Rara terkadang kesel, jenuh, tapi karna dia sahabat
hal itu menjadi sangat menyenangkan. Terkadang Dina iri pada Rara yang gampang
mendapatkan bahagia, sedangkan ia seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Jam
sekolah pun dimulai mereka menjalani jam pelajaran dengan baik hingga waktu
istirahat pun tiba.
“yukk jajan ra”
“maaf ya din aku mau jajan sama doi maaf ga bisa
sama-sama kamu”keluhnya.
“yaudah gak apa-apa ra”
“makasih ya din kamu sahabat terbaik aku, makanya
jangan jomblo terus”
“ahh kamu”ucap Dina jengkel
Yaahhh begitulah sahabat ada dimana ia menjadi yang
pertama dan juga ada dimana ia menjadi yang kedua bahkan ia bisa saja menjadi
yang terakhir. Tapi Dina sangat yakin Rara tak akan menjadikannya yang
terakhir.
Dikantin Dina masuk ke dalam gerombolan orang orang
lapar yang ingin menyantap makanannya. Suaranya riuh, berisik sungguh Dina
tidak menyukainya mungkin kalau karna tidak lapar Dina tak akan berkunjung
ketempat seperti ini.
“ehemm”suara yang tak asing di telinga Dina”
“eh eh maaf”. menundukan kepalanya.
“permisi yaa boleh kami duduk disini” dengan suara
lembut itu membuat dina ingin melihatnya.
Butuh keadaan jantung yang sangat sehat untuk
menantap mata indah yang telah membuat dina enggan jatuh cinta. Dengan terpaksa
Dina melakukannya.
“iyaaa Rio” dengan tatapan kosong.
“makasih Dina Re duduk disini” . Dengan tatapan
tajam yang masuk kedalam masalalu mereka, Rio megandeng seorang wanita dengan
erat dan cinta.
Dia Rio lelaki yang Dina cintai dahulu sebelum
tragedi perpisahan yang memisahkan mereka. Sampai saat ini Dina masih mencintai
sosok yang tidak mencintainya lagi. setelah Rio duduk tak ada sepatah kata pun
ia ucapkan untuk Dina sungguh keadaan seperti ini yang membuat dina sangat
sakit. Sangat tertekan dengan keadaan Dina bergegas meninggalkan kursi itu.
“tuhan aku masih mencintainya, aku masih
menginginkannya. Tak pantaskah aku merasakan bahagia, kenapa seberat ini
kisahku?. Kenapa?” bantin Dina.
Air mata yang tidak diinginkan hadirnya kini datang
juga, lagi lagi karena lelaki yang membuatnya jatuh cinta, dan pergi tanpa
alsasan yang jelas. Dina pergi ke atap sekolah yang sepi disitulah tempat
dimana ia menumpahkan kesedihan dan kesenangannya.
“ aaaahhh aku terlalu bodoh sama semua hal di hidup ku terlalu hampaa sangaattt
hampaa aku bosan tuhaaaaan aku bosaaannn”. Ucap Dina lantangnya.
“aku ingin bahagiaaa seperti Rara tak banyak air
mata yang ia keluarkan seperti aku, inikah yang aku rasakan disisa
hidupku”ucapnya sekali lagi.
“bosankah? Aku saja tak ada bosan bosannya mencintai
orang yang tdak mencintaiku”. Ucap seorang pria.
Dina tak berbalik arah dia tidak tau siapa yang
berada tepat di belakangnya. Dia tak ingin berbalik karna ia sedang menangis.
“siapa kamu?”. Ucap Dina lantang
“aku lelaki yang mencintaimu Dina selama ini kau
anggap sahabat”. Ucapnya lantang
“jingga?”ucap Dina melemah
“iyaa Senja Dinata”
Dina berbalik jingga menatapnya rapuh, Dina langsung
saja memeluknya dengan erat bahkan sangat hangat ini lah yang Dina perlukan
saat ia terpuruk seperti ini. Hanya pelukan dan bahu untuk bersandar.
Jingga membisikan kata”aku mencintaimu Dina”.
Dina terus menangis tak ada jawaban dari mulutnya
sedikit pun, ia menahan perih lagi, menahan sakit lagi. berulang kali ia
rasakan tanpa ada titik bahagia yang
datang ia menunggu dan menanti bahagia.
Lelaki itu merogoh tubuhnya yang melemah lelaki itu
membisikannya kata kata indah dan akhirnya ia tak sadarkan diri. What Happen On
You Dina...............................................
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar