Jumat, 26 Desember 2014

SALAM GELAP DALAM SENJA


Salam Gelap Dalam Senja
Selamat gelap, apa kabarmu cinta? Ada mahkluk Tuhan yang merindukanmu, menantimu, dan menginginkanmu. Dimana kamu cinta? Ia tertatih menantimu. Hampiri ia cinta, ia kesepian tanpamu. Mahkluk itu adalah wanita yang tidak tahu dimana ia harus menempatkan hatinya, ketika perjalanan luka lama yang menghantuinya, wanita yang sangat takut ditinggalkan dan meninggalkan, wanita lemah yang hidup dengan racikan racikan dokter. Dia terbiasa dengan sakit. Memendam perih pun kebiasaanya. Wanita itu ketakutan, hal yang terjadi membuat ia enggan JATUH CINTA. Wanita itu adalah Dina.
“pagi ini cerah ya din”
“iyaa nih ra”
Percakapan kedua insan yang memecahkan kesunyian kelas. Mereka sepasang sahabat yang saling mengisi, memberi dan menerima. Dina memilih Rara menjadi sahabatnya sejak pertama kali ia mengenal Rara entah karna apa, Dina merasa separuh tubuhnya berada pada tubuh Rara. Kenapa tidak dari wajahnya saja meraka mirip ditambah tingkah laku dan kebiasaan yang hampir sama membuat mereka sangat lengket.
“kamu mau tau gak din kemaren si doi sosweet binggo”. Ucap Rara bahagianya.
“kok bisa ra”
“begini loh.....................”. panjang lebar Rara menjelaskan.
Kalau sudah suasananya begini Dina menjadi sosok pendengar yang baik untuk Rara terkadang kesel, jenuh, tapi karna dia sahabat hal itu menjadi sangat menyenangkan. Terkadang Dina iri pada Rara yang gampang mendapatkan bahagia, sedangkan ia seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Jam sekolah pun dimulai mereka menjalani jam pelajaran dengan baik hingga waktu istirahat pun tiba.
“yukk jajan ra”
“maaf ya din aku mau jajan sama doi maaf ga bisa sama-sama kamu”keluhnya.
“yaudah gak apa-apa ra”
“makasih ya din kamu sahabat terbaik aku, makanya jangan jomblo terus”
“ahh kamu”ucap Dina jengkel
Yaahhh begitulah sahabat ada dimana ia menjadi yang pertama dan juga ada dimana ia menjadi yang kedua bahkan ia bisa saja menjadi yang terakhir. Tapi Dina sangat yakin Rara tak akan menjadikannya yang terakhir.
Dikantin Dina masuk ke dalam gerombolan orang orang lapar yang ingin menyantap makanannya. Suaranya riuh, berisik sungguh Dina tidak menyukainya mungkin kalau karna tidak lapar Dina tak akan berkunjung ketempat seperti ini.
“ehemm”suara yang tak asing di telinga Dina”
“eh eh maaf”. menundukan kepalanya.
“permisi yaa boleh kami duduk disini” dengan suara lembut itu membuat dina ingin melihatnya.
Butuh keadaan jantung yang sangat sehat untuk menantap mata indah yang telah membuat dina enggan jatuh cinta. Dengan terpaksa Dina melakukannya.
“iyaaa Rio” dengan tatapan kosong.
“makasih Dina Re duduk disini” . Dengan tatapan tajam yang masuk kedalam masalalu mereka, Rio megandeng seorang wanita dengan erat dan cinta.
Dia Rio lelaki yang Dina cintai dahulu sebelum tragedi perpisahan yang memisahkan mereka. Sampai saat ini Dina masih mencintai sosok yang tidak mencintainya lagi. setelah Rio duduk tak ada sepatah kata pun ia ucapkan untuk Dina sungguh keadaan seperti ini yang membuat dina sangat sakit. Sangat tertekan dengan keadaan Dina bergegas meninggalkan kursi itu.
“tuhan aku masih mencintainya, aku masih menginginkannya. Tak pantaskah aku merasakan bahagia, kenapa seberat ini kisahku?. Kenapa?” bantin Dina.
Air mata yang tidak diinginkan hadirnya kini datang juga, lagi lagi karena lelaki yang membuatnya jatuh cinta, dan pergi tanpa alsasan yang jelas. Dina pergi ke atap sekolah yang sepi disitulah tempat dimana ia menumpahkan kesedihan dan kesenangannya.
“ aaaahhh aku terlalu bodoh sama semua  hal di hidup ku terlalu hampaa sangaattt hampaa aku bosan tuhaaaaan aku bosaaannn”. Ucap Dina lantangnya.
“aku ingin bahagiaaa seperti Rara tak banyak air mata yang ia keluarkan seperti aku, inikah yang aku rasakan disisa hidupku”ucapnya sekali lagi.
“bosankah? Aku saja tak ada bosan bosannya mencintai orang yang tdak mencintaiku”. Ucap seorang pria.
Dina tak berbalik arah dia tidak tau siapa yang berada tepat di belakangnya. Dia tak ingin berbalik karna ia sedang menangis.
“siapa kamu?”. Ucap Dina lantang
“aku lelaki yang mencintaimu Dina selama ini kau anggap sahabat”. Ucapnya lantang
“jingga?”ucap Dina melemah
“iyaa Senja Dinata”
Dina berbalik jingga menatapnya rapuh, Dina langsung saja memeluknya dengan erat bahkan sangat hangat ini lah yang Dina perlukan saat ia terpuruk seperti ini. Hanya pelukan dan bahu untuk bersandar.
Jingga membisikan kata”aku mencintaimu Dina”.
Dina terus menangis tak ada jawaban dari mulutnya sedikit pun, ia menahan perih lagi, menahan sakit lagi. berulang kali ia rasakan tanpa ada titik bahagia  yang datang ia menunggu dan menanti bahagia.
Lelaki itu merogoh tubuhnya yang melemah lelaki itu membisikannya kata kata indah dan akhirnya ia tak sadarkan diri. What Happen On You Dina...............................................
Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar