Jumat, 27 Februari 2015

SALAM GELAP DALAM SENJA (3)


PART 3
Ucapan selamat dari sahabat terbaik Dina kemarin malam melengkapi kebahagiaan mereka, suasana malam yang sangat indah dengan kebahagian yang tak bisa terungkap dengan kata kata membuat Jingga mengukir senyuman di sepanjang perjalanan pulangnya.
            “sayang pulangnya hati hati ya”. Pesan singkat yang diterima jingga di perjalanan mengukir senyuman tidak terkira, keadaan seperti ini membuat anak adam ini semakin utuh sangat utuh bahkan sempurna.
            Fajar kembali muncul suasana dingin menusuk tubuh, embun pagi berkeliaran menebar segar, wajah kusut Dina seakan enggan untuk bangkit dari ranjangnya. Wajar saja cuaca di kota khatulistiwa kini bisa dibilang musim penghujan. Aktivitas yang sangat menguntungkan saat musim penghujan itu adalah TIDUR. Seketika handphone yang tidak tentu letaknya kini berdering.
            “Pagi sayang, semangat Dina jangan males2an entar aku tunggu di sekolah ya i love you”
Dina meraih handphonenya tampak dilayar seorang lelaki telah menyapanya Dina tersenyum kecil ketika membaca pesan singkat dari kekasihnya itu. Untung saja Dina tidak melupakan bahwa  memiliki kekasih sebab telah sekian lama ia tak pernah di sapaa seperti itu setelah kejadian 1 tahun yang lalu. Dina mengetik handphone untuk membalas sapaan kekasih barunya.
Sesampainya disekolah.
“ciaaaaa sahabat aku gak jomblo lagi”.
“udah ih malu tau gak pake acara bilang jomblonya dikeras kerasin lagi”.
Pagi pagi begini saja Dina sudah dibuat kualahan oleh Rara dengan sikapnya yang terlalu heboh pada kisah percintaan Dina sebenarnya sikap itu biasa saja baginya tapi untuk saat ini gosipnya menjadi kekasih jingga terlalu cepat untuk disebarluaskan. Dina mencari cari sosok kekasihnya itu belum tampak juga disekolah padahal bel akan segar berbunyi. Timbul rasa khawatir dibenatnya. Sesekali ia melihat keluar jendela tak ia temui juga lelakinya.
“hai syang”
“apaan sih gga disekolah itu biasa aja malu tau”
“iya deh iya bidadari yuk kekantin” dengan paksa jingga menariki tangan Dina tanpa ada sepatah kata pun untuk mengiyakan ajakanya itu.
Akhirnya mahkluk astral yang sedari pagi dicari Dina menghampirinya pada jam istirahat, Dina tidak tau dari mana ia datang tiba tiba saja, ia selalu ada ketika Dina sedang memikirkannya sampai-sampai Dina mengakui bahwa Jingga adalah mahkluk astral yang tampan.
“kamu kemana aja sih jingga”
“kenapa emang kamu khawatir yaa?” . dengan nada mengejek.
“idihhh kagak banget”. Dina berusaha menyembunyikan kekhawatiran itu kepada mahkluk astralnya sebab jika ia tau bahwa Dina benar2 mengkhawatirkannya mungkin ia akan melayang menembus atap kantin. Jam istirahat Dina habiskan dengan kekasihnya. Hingga jam pulang pun tiba. Rasa lelah telah beraktivitas seharian membuat muka Dina sedikit kusut, Dina berharap mahkluk astral kekasihnya itu tidak muncul tiba tiba melihat kondisi begitu urak urakan.
“hei bidadari” dengan muka idiotnya
“selalu muncul tiba tiba kamu hantu ya?”
“hantu hantu gini pacar kamu”
“tau ahhh”.
“sepertinya bidadariku ini sedang kelelahan mari kita pulang”. dia mengandengku hingga parkiran dan menaiki motorku.
“mau ngapain aku bisa pulang sendiri”.
“aku gak bakalan biarin bidadariku yang lelah ini kenapa2 biar aku saja yang anter”
Mahkluk astral itu berhasil membuat Dina luluh dan berkaca kaca, ia pandai mencairkan hati wanita yang super duper cuek ini. sungguh jingga telah menjadi kekasihnya tapi tetap saja dia berlaku cuek sepanjang masa. Dina jumpai hal terindah di hati jingga bahkan jingga dulu yang juga cuek padanya berubah sedemikan rupa. Dina sekarang tepat berada di bahu belakang kekasihnya, ia memasukan tangannya di saku sweater jingga. Setelah ia melewati gerbang sekolah tampak 2 mata yang sedang memperhatikan Dina dan jingga.
“aku merasakannya”
“ada apa sayang?”
Percakapan terhenti.
***

Kamis, 08 Januari 2015

SALAM GELAP DALAM SENJA


PART 2
Pelangi selalu tiba setelah hujan. Air yang jatuh berganti sinar nan indah berwarna, hingga mata kini terpanah olehnya. Sayang keindahan yang menghiasi langit tak tertahan lama akan ada ketika langit kehilangan warna dan kembali sepi.  Seperti  itu lah Dina, jika ia menjelaskan arti hidup baginya mungkin akan banyak majas dan kata kata khiasan yang akan ia gunakan.
“Aku dimana? Apa yang terjadi ”. Ucap Dina lemah.
“kamu di UKS Din, penyakit kamu kambuh dan akhirnya kamu pingsan”. Rara memberikan secarik minuman.
Tidak banyak pertanyaan yang Dina lontarkan sebab ia masih mengalami sakit. Sakit lahir dan batin. Ia mencoba mengingat kejadian yang telah terjadi sebelum ia berada di Uks bersama Rara. Terakhir terlintas di benatnya ia berada di pelukan seorang pria.
“jingga?mana dia Ra?”
“dia masuk kelas karna ada ulangan, padahal dia yang nungguin kamu dari tadi tapi kamu gak sadar sadar”. Ucapnya melemah.
“ aku harus temui dia skrng sudah jam pulang!”. Dina bergegas pergi.
“ta ta tapii dinn”. Cegahnya.
Dina bergegas ke kelasnya tak ia temui lelaki yang telah menopangnya bangkit. Membawanya keruang kesehatan dan memberi perhatian lebih padanya. Ia pergi kekantin lagi lagi tak ia temui kehadirannya. Akhirnya ia temui lelaki itu di hall membawakan tas dan helmnya.
“kemana aja jingga? Aku cariin kamu loh?”.
“aku disini di hadapanmu, ini tas dan helmmu”. Jingga dengan tatapan tajamnya
“udah gitu aja?”.
“pulang gih entar kamu sakit lagi”.
Begitulah jingga orangnya cuek,nyebelin,aneh tapi dia perhatian walaupun kadang kadang. sontak saja Dina tak pernah mengira bahwa Jingga mencintainya. Lelaki itu pulang seolah olah tak terjadi apapun terhadapnya dan Dina tapi entah apa di pikiran hati Jingga. Dia hadir ketika Dina butuh tanpa meminta balasan apapun. Dina pulang mengunakan sepeda motornya. Rara yang sibuk dengan pacarnya membuat Dina cukup jengkel tapi apa boleh buat seperti itu lah sepasang kekasih.
Matahari senja kini tiba, dalam hitungan menit langit akan berubah menjadi hitam dan gelap.
*kriiiinnnnnng kring* suara telepon Dina berbunyi. Ternyata panggilan dari jingga.
“hallo ada apa jingga?”
“hallo, entar malam aku kerumah kamu ya Din”
“mau ngapain gga”
“tunggu aja entar tau ndiri” ucap Jingga angkuh.
Dina selalu dibuat kesal entah karna apa jingga melakukan itu. Dina mulai merasakan ada cinta yang datang padanya tapi bukan cinta yang ia kejar dan juga bukan cinta yang ia inginkan. Cinta itu menghampirinya seakan akan menghalangi rute perjalanannya seperti setapak jalan yang sangat menarik untuk di lalui ditengah jalan yang lurus. Terlintas dipikirannya bahwa jalan yang menarik itu adalah apa yang harus ia hampiri.
“assalamualaikum, Dina??” teriak jingga di teras rumah Dina.
“waalaikumsalam bentaarrrr” membuka pintu.
“ yukk masuk jingga”. Ajaknya
“ga usah repot repot kita di taman aja”
Apa yang akan di lakukan lelaki yang sangat Dina kenal itu. Wajahnya susah di tebak, lelaki berkulit kuning langsat, berkumis tipis dan berambut klimis sangat tampan malam ini. mereka berjalan beriringan dan akhirnya lelaki itu duduk di ayunan. Dina tetap berdiri berbincang kecil pada Jingga diselipi canda kecil khas mereka. Setelah tawa kedua insan itu terhenti sunyi pun menyapa. Mereka memutuskan duduk di salah satu kayu yang ada di sekitar taman.
“kamu tampan malam ini gga”. Ucap Dina tersipu
“kamu selalu cantik setiap saat Dina”
Tak ada kata yang mereka ucapkan setelah itu, sunyi lagi lagi menyapa mungkin mereka memikirkan kejadian siang tadi. Tak ada yang ingin memulai percakapan itu. Jingga memberanikan diri menanyakan perasaan Dina terhadap Rio mantan Dina walaupun Jingga tau bahwa jawabannya adalah sangat cinta, masih cinta, atau makin cinta.
“aku akan mencoba membuka hati”. Ucap dina lantang membuat suasana berubah.
“izinkan aku berada dihatimu”. Sahut jingga lantang
“kamu sahabatku”
“aku mencintaimu Dina”
Sahut sahutan antara mereka makin jelas sangat jelas. Tanpa ada satu kata pun terbata terhenti ketika jingga mengkaitkan cinta. Percakapan terhanti lama. Perasaan Dina kacau entah harus bertahan terhadap cinta yang tak pasti atau berlabuh pada cinta yang sekarang tepat disampingnya. Dina tak terlalu bodoh untuk di bodoh bodohi perasaannya sendiri. hati dan logikanya kini seperti berperang.
“aku juga mencintaimu jingga”. Sahut Dina dengan senyum manisnya.
Jingga beranjak bangkit dari duduk memeluk Dina dengan bahagianya. Sangat erat itulah cinta tak dapat ditebak, diminta dan dicari. Cinta datang ketika Dina membutuhkannya. Jingga mencium kening dina dengan penuh cinta.
“Dinn? Congratulation” ucap seseorang tepat di belakang Dina dan Jingga
Suasan sepi. Who is That ?
Bersambung...................................

***

Jumat, 26 Desember 2014

SALAM GELAP DALAM SENJA


Salam Gelap Dalam Senja
Selamat gelap, apa kabarmu cinta? Ada mahkluk Tuhan yang merindukanmu, menantimu, dan menginginkanmu. Dimana kamu cinta? Ia tertatih menantimu. Hampiri ia cinta, ia kesepian tanpamu. Mahkluk itu adalah wanita yang tidak tahu dimana ia harus menempatkan hatinya, ketika perjalanan luka lama yang menghantuinya, wanita yang sangat takut ditinggalkan dan meninggalkan, wanita lemah yang hidup dengan racikan racikan dokter. Dia terbiasa dengan sakit. Memendam perih pun kebiasaanya. Wanita itu ketakutan, hal yang terjadi membuat ia enggan JATUH CINTA. Wanita itu adalah Dina.
“pagi ini cerah ya din”
“iyaa nih ra”
Percakapan kedua insan yang memecahkan kesunyian kelas. Mereka sepasang sahabat yang saling mengisi, memberi dan menerima. Dina memilih Rara menjadi sahabatnya sejak pertama kali ia mengenal Rara entah karna apa, Dina merasa separuh tubuhnya berada pada tubuh Rara. Kenapa tidak dari wajahnya saja meraka mirip ditambah tingkah laku dan kebiasaan yang hampir sama membuat mereka sangat lengket.
“kamu mau tau gak din kemaren si doi sosweet binggo”. Ucap Rara bahagianya.
“kok bisa ra”
“begini loh.....................”. panjang lebar Rara menjelaskan.
Kalau sudah suasananya begini Dina menjadi sosok pendengar yang baik untuk Rara terkadang kesel, jenuh, tapi karna dia sahabat hal itu menjadi sangat menyenangkan. Terkadang Dina iri pada Rara yang gampang mendapatkan bahagia, sedangkan ia seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Jam sekolah pun dimulai mereka menjalani jam pelajaran dengan baik hingga waktu istirahat pun tiba.
“yukk jajan ra”
“maaf ya din aku mau jajan sama doi maaf ga bisa sama-sama kamu”keluhnya.
“yaudah gak apa-apa ra”
“makasih ya din kamu sahabat terbaik aku, makanya jangan jomblo terus”
“ahh kamu”ucap Dina jengkel
Yaahhh begitulah sahabat ada dimana ia menjadi yang pertama dan juga ada dimana ia menjadi yang kedua bahkan ia bisa saja menjadi yang terakhir. Tapi Dina sangat yakin Rara tak akan menjadikannya yang terakhir.
Dikantin Dina masuk ke dalam gerombolan orang orang lapar yang ingin menyantap makanannya. Suaranya riuh, berisik sungguh Dina tidak menyukainya mungkin kalau karna tidak lapar Dina tak akan berkunjung ketempat seperti ini.
“ehemm”suara yang tak asing di telinga Dina”
“eh eh maaf”. menundukan kepalanya.
“permisi yaa boleh kami duduk disini” dengan suara lembut itu membuat dina ingin melihatnya.
Butuh keadaan jantung yang sangat sehat untuk menantap mata indah yang telah membuat dina enggan jatuh cinta. Dengan terpaksa Dina melakukannya.
“iyaaa Rio” dengan tatapan kosong.
“makasih Dina Re duduk disini” . Dengan tatapan tajam yang masuk kedalam masalalu mereka, Rio megandeng seorang wanita dengan erat dan cinta.
Dia Rio lelaki yang Dina cintai dahulu sebelum tragedi perpisahan yang memisahkan mereka. Sampai saat ini Dina masih mencintai sosok yang tidak mencintainya lagi. setelah Rio duduk tak ada sepatah kata pun ia ucapkan untuk Dina sungguh keadaan seperti ini yang membuat dina sangat sakit. Sangat tertekan dengan keadaan Dina bergegas meninggalkan kursi itu.
“tuhan aku masih mencintainya, aku masih menginginkannya. Tak pantaskah aku merasakan bahagia, kenapa seberat ini kisahku?. Kenapa?” bantin Dina.
Air mata yang tidak diinginkan hadirnya kini datang juga, lagi lagi karena lelaki yang membuatnya jatuh cinta, dan pergi tanpa alsasan yang jelas. Dina pergi ke atap sekolah yang sepi disitulah tempat dimana ia menumpahkan kesedihan dan kesenangannya.
“ aaaahhh aku terlalu bodoh sama semua  hal di hidup ku terlalu hampaa sangaattt hampaa aku bosan tuhaaaaan aku bosaaannn”. Ucap Dina lantangnya.
“aku ingin bahagiaaa seperti Rara tak banyak air mata yang ia keluarkan seperti aku, inikah yang aku rasakan disisa hidupku”ucapnya sekali lagi.
“bosankah? Aku saja tak ada bosan bosannya mencintai orang yang tdak mencintaiku”. Ucap seorang pria.
Dina tak berbalik arah dia tidak tau siapa yang berada tepat di belakangnya. Dia tak ingin berbalik karna ia sedang menangis.
“siapa kamu?”. Ucap Dina lantang
“aku lelaki yang mencintaimu Dina selama ini kau anggap sahabat”. Ucapnya lantang
“jingga?”ucap Dina melemah
“iyaa Senja Dinata”
Dina berbalik jingga menatapnya rapuh, Dina langsung saja memeluknya dengan erat bahkan sangat hangat ini lah yang Dina perlukan saat ia terpuruk seperti ini. Hanya pelukan dan bahu untuk bersandar.
Jingga membisikan kata”aku mencintaimu Dina”.
Dina terus menangis tak ada jawaban dari mulutnya sedikit pun, ia menahan perih lagi, menahan sakit lagi. berulang kali ia rasakan tanpa ada titik bahagia  yang datang ia menunggu dan menanti bahagia.
Lelaki itu merogoh tubuhnya yang melemah lelaki itu membisikannya kata kata indah dan akhirnya ia tak sadarkan diri. What Happen On You Dina...............................................
Bersambung......

Selasa, 10 Juni 2014

KEHENDAK TUHAN


KEHENDAK TUHAN
Pagi mendung mengurungkan niatku untuk beranjak dari ranjang tidurku. Sungguh cuaca ini membuatku ingin bermalas-malasan, tapi aktivitas hari ini yang tertata rapi di pikiranku membuatku sedikit bersemangat. ”huuuuuaaaa semangattt” aku mulai beranjak dari ranjangku yang tak tentu bentuknya itu, memang aku jarang merapikannya karena aku terlalu sibuk dengan duniaku. Aktivitas yang tak tentu tujuannya dan bnyak lagi. Aku menyebutnya” permainan hidup” .  Aku bersiap-siap berangkat kesekolah. Dengan seragam “Putih abu abu”
Disekolah aku terkenal dengan keanehanku,kebloonanku,keberanianku dan masih banyak lagi ikutin aja kisah ku. sesampainya”selamat pagiiii” dengan suara tertinggi aku menyapa teman-temanku yang berada di kelas”pagiiiiii don” dengan suara datar dan muka bloon mereka menerima salamku. Akuu dona siswi SMA negeri terbaik di daerah sekitar tempat tinggalku. Aku tak begitu cerdas bisa di bilang biasa-biasa saja. Aku mempunyai 3 teman terdekat yaitu Putri,Linda,dan Yanti.
”Heeeyy guyyss gue belum ngerjain tugas nih” sapaanku di sambut dengan kesunyian.”lo bangga gak ngerjain tugas mulu?nih cepet kerjain pemalass” dengan bete nya linda menasehatiku.”lo kok gitu sih lin beda banget sama gue”.”lo itu udah dateng telat tugas gak ngerjain mauuu jadi apa donaaa?” dengan lembut linda mencubit kedua pipiku.
Tenggggg tenggg teeennngg suara bel berbunyi “adaaaaaa guruuuu” teriak salah satu temanku. “yaaahhh tugas gue belum selesai”. “naahhh lo don tau rasa deh” dengan nada seram yanti menakut-nakutiku.”wadduhhh gue harus gimana nih putt ampun deh ibu killer lagi”.”mana gue tauu” ucap putri dengan gampang nya.
“Morning student”. “ morning Mom“ jawab kami serempak. “sok inggris banget tuh guru hahaha” tawa dona memecahkan kesunyian kelas. “ada apa dona?ada yang lucu” tanya guruku dengan judesnya. “ehmmmm enggak kok enggak mom” sambil mengaruk garuk kepala.”kumpulkan tugas kalian yang ibu beri kemarin!. “ampun deh gue belum  selesai gimana nih?” tanyaku setengah ketakutan kepada tiga temanku itu. Tangan dan badanku seketika dingin dan bercucuran keringat.
“ada yang tidak mengerjakan?” tanya guru itu sekali lagi membuat jantungku hampir saja berhenti. Badanku bergetar mengangkat tangan untuk mengakui bahwa aku tidak mengerjekan tugas.”lagi lagi kamu ya dona?kapan kamu berubah?”.”sa sa sayaaaa”.”alasan apa lagi ha? Keeeluuaaarrrrrrrr!!!!!!!”. Dengan berat hati aku beranjak pergi  dari kelas itu tanpa alasan yang belum aku jelaskan.
Di jalan menuju taman aku mencoba menjelaskan aku tidak mengerjakan tugas itu bukan karna aku malas tapi akuuu... “donaaaaaa”. Teriakan histeris tiga temanku. Lagi lagi jantungku.”kenapa mereka keluar ya?” tanya ku belakang.
 “don kita gak ngumpulin tugas nih”. Dengan gembiranya putri menjelaskan.”haa?kenapa?”.”karena kami gak bisa biarin kamu keluar sendirian dona” . tatapan hangat mereka membuatku tersentuh berkaca kaca mataku dan air mata yang hampir saja jatuh bisa aku kontrol. Senyuman mereka bisa membuatku sedikit lupa dengan apa yang menjadi beban diriku.”yuukkkk ke taman kita nyantai” dengan gembira kami bergegas pergi.
Esoknya Kami menjalani hari hari kami penuh dengan kegembiraan. Mereka berhasil membuatku berubah menjadi yang terbaik. Menjadi sedikit berguna. Aku fikir di dunia ini tidak ada orang seperti mereka. Bagiku mereka sangat berharga. Mereka mengisi sisa sisa hidupku. Kepedulian, perhatian, kebaikan membuatku tak ingin berpisah tapi tuhan bisa saja berkehendak lain.
Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, hari ulang tahunku yang ke-16. Aku harap mereka tidak lupa. Saat ini hari libur jadi aku tak bertemu mereka.aku duduk di teras belakang rumah. ”yaahhh libur sama saja seperti ulang tahunku tahun lalu dan sebelum sebelumnya gak ada yang inget”. Tiba-tiba “ploookkk” telur membasahi rambutku. “apa ini?”.
”happy brithday dona,happy brithday,happy brithday,happy brithday dona” mereka menyanyikanku,membawa kue ulangtahun beserta kado kado dari mereka.”selamat ulang tahun dona tiup lilinnya jangan lupa make a wish yaa” ucap putri. “ohh tuhan bahagianya aku”. “terimakasih ya teman teman kirain gue kalian lupa”.”kami gak bakalan pernah lupa hari bahagia orang sebaik lo don yaa gak guyysss”. Ucap yanti semangatnya.” Aaah bisa aja”
Kami  bermain main hingga sore hari. keinginanku untuk bersama mereka saat hari bahagiaku kini kenyataan. Mereka pulang dengan kegembiraan telah mengerjaiku habis habisan hari ini. tapi aku cukup bahagiaa bahagia.
Malam mulai tiba, makanan di meja makan mengugah selera membuatku ingin segera menyantapnya. Bergegas aku mengambil piring. “praaaaankkkkk” suara piring yang terjatuh dari tanganku memecahkan kesunyian malam”ohh tuhan apa lagi ini” butir demi butir air mata jatuh ke pipi. Aku tidak bisa mengerakan kedua tanganku. Serantak aku terduduk. “yaa ampun mbak” tangan bibi membangunkanku.”biii tanganku”. “iya mbak bibi tau duduk saja biar bibi yang suapin ya mbak”. “tidak bii makasih”
Masih dalam keadaan diam di meja makan, selang waktu tanganku pulih kembali dan aku langsung menuju kamarku. Sakit ini lah yang membuatku tidak mengerjakan tugas, sakit ini lah yang secara diam diam menyerang semua sendiku. Bukan karena aku malas atau apalah.
Aku berusaha menyembunyikan penyakit ini dengan orang-orang yang mengenalku. Aku tidak ingin mereka mebatasi aktivitasku, aku tak ingin mereka mengkhawatirkanku.Entah sampai kapan aku bertahan. semakin lama tubuh ini semakin lemah. Segala pengobatan aku lakukan demi kelangsungan hidupku. Aku sudah tau apa yang terjadi nanti , aku tak ingin memikirkan nya.

Terlelap aku malam tadi berusaha melupakan kejadian itu. Study sekolah kali ini olahraga. Pastinya aku bersama teman–temanku. Aku ikut kegiatan pagi hingga siang hari.”don muka lo pucat lo kenapa”. Tanya putri penasaran.”aku gak kenapa-kenapa put”.”kalau lo capek istirahat aja don”.”bener don entar ada apa-apa lagi” sambung yanti.perasaanku aneh, penuh ketakutan. Takut meninggalkan mereka. Takut berpisahh, aku takut. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka tapi entah bagaimana.
Tiba tiba tanganku,kakiku,tubuhku tidak berdaya”guuubbbraaaakk”. Aku terjatuh di lapangan sekolah. Aku masih sadar saat teman-temanku serentak mengerumuniku bergegas membawaku ke UKS sehingga mataku tidak mampu terbuka dan berlahan pandanganku gelap hingga aku tak sadarkan diri. Aku harap tiga sahabatku membaca pesan singkat dariku.
Dear putri,linda dan yanti
Sahabat sahabatku, aku bahagia banget ada di dekat kalian. Mengenali kalian satu sama lain. Kalian itu segalanya, mengerti aku dan memahamiku.karena ada kalian aku tidak merasa sendiri lagi. kalian penyebab semangat hidupku. Aku minta maaf selama ini aku menyembunyikan sesuatu dari kalian. Yang selama ini menjadi beban dan alasan mengapa aku tidak biasa berakitivitas selayaknya. Penyakit ini yang menggeruguti tubuhku dan mengambil segalanya.aku tidak pernah menyalahkan keadaan apalagi Tuhan tidak!. aku menerima dan menjalaninya. Ketahuilah teman berbagai cara aku lakukan demi hidup. keinginanku tak sejalan dengan takdirku. Maaf kan aku teman mungkin tuhan berkehendak lain bisa saja dia memanggilku kapan saja dan bisa saja dia memberiku kesehatan lagi setelah aku sekejab memejamkan mata.aku berperang bersama Kanker tulang yang membuatku rapuh.
Bersambung......